Kamis, 24 Februari 2011

Terapi Siswa Dengan Al-Qur’an

Ternyata image yang kurang tepat dari orang tua di masyarakat terhadap pesantren masih ada. Buktinya, saya masih mendengar perkataan orang tua, jika anak yang nakal, melawan orang tua itu didaftarkan atau di masukan saja ke pesantren. Sontak, dengan anggapan ini kita bertanya kembali apakah pesantren tempat menampung anak-anak yang nakal, bandel atau melawan kepada orang tuanya? Jika hal itu ada dalam pandangan masyarakat dan masih menjadi kesan umum, mari sedikit demi sedikit hal itu kita rubah ke arah pemahaman yang lebih baik. Bicara soal pesantren dewasa ini, setidaknya kita harus membagi dan mengklasifikasikan pesantren terlebih dahulu. Secara uum kita ketahui dunia pesantren terbagi kedalam dua bentuk. Pertama, pesantren tradisional dengan salafiahnya. Kedua, pesantren Modern. Yang dalam perkembangannya pesantren modern lebih cepat dan beradaptasi dengan masyarakat. Dalam konteks pesantren modern, maka mulai dikena dengan pesantren mahasiswa yang berada dilingkungan dan dikelolah kampus atau perguruan tinggi tersebut. Dengan kajian materi yang lebih modern, baik dari metode belajar atau aplikasi pelajaran dengan lifeskill mahasiswa itu sendiri. Tetapi disisi lainpun keberadaan pesantren tradisional, memang masih banyak terutama di desa-desa atau pesisir pantai. Bahkan dewasa ini pesantren yang berlabel pesantren khusus untuk terapi; seperti pesantren terapi obat-obatan akibat kecanduan narkotika, pesantren khusus menangani mantan preman atau pesantren Tahfidz sebagai penghafal al-Qur’an banyak diminati oleh semua kalangan. Yang jelas namanya pesantren baik itu tradisional atau modern adalah lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak generasi yang sholeh, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Materi yang diajarkan di pesantren berbobot ke-akheratan atau bisa dikatakan belajar tasawuf. Mengutip pendapat imam al-Ghozali bahwa tujuan tasawuf adalah mengenal ma’rifatullah(mengenal Allah). Karena di pesantren lebih mengutamakan materi-materi agama; cara hidup ikhlas, sabar, tawakal atu zuhud itu sendiri. Memang sangat mudah untuk mengenali kenakalan santri atau siswa di pesantren dibandingkan dengan sekolah umum. Karena di pesantren pembelajaran dilakukan selama 24 jam. Keberadaan pesantren dulu dengan sekarang sudah berbeda. Kita bisa melihat pesantren Modern Gontor, al-Zaitun, Darunnajah atau Pesantren Modern lainya bahkan ada rintisan pesantren mahasiswa yang bertaraf go Internationalpun menjadi wacana yang sangat menarik dibicarakan. Apa dan bagaimana terapi anak dengan al-Qur’an? Dalam mengenali kenakalan anak didik atau siswa, guru akan mengenali kepribadian siswa secara jelas. Yang sekarang ini, masih banyak kesulitan bagi guru didalam menangani kenakalan pada siswanya terutama pada sekolah umum. Menurut penulis ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Secara umum oleh dua faktor, yaitu intern dan ekstern. Secara intern bisa saja kesalahan diawal penerimaaan pendaftaran murid baru yaitu tidak diikut sertakannya materi test Qur’an. Padahal dengan test Qur’an meliputi bacaan, hafalan ataupun pemahaman al-qur’an bagi anak didik kita atau siswa itu sangat menentukan didalam mengetahui kepribadiannya. Apa yang tidak bisa? Toh ilmu itu sendiri berasal dari al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Bagi seorang guru memang sering mengalami kesulitan untuk mengenali prilaku anak didiknya. Kenapa anak yang satu dengan anak yang lainya berbeda karakter, kecerdasan atau bahkan prilakunya. Hal ini melalui pendekatan pengenalan terhadap kemampuan siswa didalam bacaan al-Qur’an bisa dikenali. Memang disekolah –sekolah umum masih jarang, dilakukan test masuk melalui penguasaan al-Qur’an. Padahal test al-Qur’an sebenarnya barometer awal untuk mengetahui perkembangan kepribadian siswa tersebut. Ada beberapa hal dan langkah yang harus dilakukan didalam test guna mengetahui kepribadian siswa. Pertama, bacaan al-qur’an. Ketika di test, bagi siswa yang sudah lancar atau bisa membaca al-qur’an. Bagi panitia penguji atau penerimaan siswa ini harus diberi tanda prioritas; artinya penilaian kelulusan apabila ada kekurangan nilai dalam hal lain, kemampuan anak didalam membaca al-Qur’an bisa dijadikan standar nilai kelulusan tersebut. Kedua, menulis huruful Qur’an. Seperti huruf hijaiyah baik secara sambung atau terpisah. Ketiga, memahami makna al-qur’an sendiri. Bagi siswa setingkat SD atau SMP, mengenal pengertian al-Qur’an atau bahkan pemahaman tentang kitab suci adalah nilai kelebihan tersendiri. Ini sangat membantu didalam mengenal kepribadiannya setelah siswa tersebut diterima menjadi siswa di sekolah. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Begitu pepatah bijak yang sering kita dengar. Hal ini jualah, yang menjadi basic point bagi sekolah –sekolah berbasis keislaman. Seperti Sekolah Taman Kanak-kanak Islam Terpadu atau Sekolah Dasarnya, tidak terkecuali juga di Sekolah Daarul Qur’an. Ternyata untuk menyeleksi siswa dengan mengenali dan mengukur kemampuan didalam al-Qur’an sangat membantu didalam mengenali karakter, kepribadian bahkan prestasinya. Belajar dari sejarah kemajuan Islam ternyata ulama-ulama salafiyah;terdahulu, mereka adalah menguasai al-Qur’an atau hafal al-Qur’an, seperti imam Syafi’i di usia 7 tahun telah hafal al-Qur’an, Imam Maliki ataupun bahkan Imam al-Ghazali yang diberi gelar Hujjatul Islam pun telah hafal Qur’an diusianya yang sama. Keterangan ini, secara jelas menjadi kesimpulan bersama bahwa pelajaran al-qur’an harus dijadikan kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan dan dijadikan vision yang harus diutamakan terutama dalam dunia pendidikan. Maka dengan demikian permasalahan yang ada dan sering dihadapi oleh banyak kalangan guru atau pengajar terhadap anak didiknya, seperti kesulitan belajar, siswa mudah pusing, tidak serius(konsentrasi) dan hingga persoalan kenakalan remaja, penulis menarik kesimpulan hal-hal tersebut dapat terselsaikan melalui pemahaman dan pengamalan siswa terhadap kitab sucinya yaitu al-Qur’an. Pendekatan terapi siswa dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah dari tingkat TK hingga Mahasiswa. Bahkan berita yang sangat menggembirakan dari UIN Maulana Ibrahim Malang adalah mereka yang mendapatkan prestasi akademik unggul ternyata beberapa diantaranya adalah hafal al-Qur’an genap 30 juz. Adapun terapi al-Qur’an secara intern yang paling penting adalah motivasi kita untuk membaca, menghafal, mengkaji dan mengamalkan al-Qur’an inilah yang harus dilakukan. Sehingga melahirkan generasi siswa yang tutur kata dan nafasnya senantiasa menghafal qur’an, budi pekertinya adalah nilai-nilai al-Qur’an. Begitu agung dan tinggi tujuan ini. Namun itulah yang harus kita mulai, agar generasi kita dimasa mendatang menjadi generasi yang hafal qur’an, mengamalkan dan mencintai qur’an. Tidak adanya kasus yang namanya korupsi pejabat. Sehingga pemerintahan yang terbangun adalah clear and good goverment Walhasil, terapi ekstern pun akan diraih yaitu prakteknya terhadap setiap siswa diklasifikasikan terlebih dahulu kepada permasalahan yang ada yang dihadapi oleh siswa itu sendiri, melaui bimbingan, arahan dan pendekatan persuasif. Sejauh mana tingkat masalah dan kenakalan yang ada di setiap siswa. Dengan cara terapi al-Qur’an sendiri maka akan menumbuhkan kecerdasan seseorang dalam potensi keilmuanya dan akan membentuk pribadi yang amal sholeh yang luar biasa. Yang mengenal dan memahami dirinya. Inilah yang akrab sekarang ini kita mengenal dengan psikologi Qur’ani. Yang manfaatnya tidak hanya untuk siswa sekolah tetapi untuk kita semua secara sempurna.

1 komentar :

  1. assalamu'alaikum

    putra sy, 5.5 tahun
    jiwa pemberontaknya luarr biasa
    nasehat/perkataan ibu/kakek/neneknya selalu dibantah
    emosinya meledak2x dan sering teriak tiap hari

    utk terapi qur'annya, dibacakan surat apa saja kah?
    karna tiap mlm sy putarkan mp3 al qur'an bbrp surat ... tp kok ttp saja bandel ya :(

    wassalam. nina.

    BalasHapus