Berawal dari
Pesantren
Ahmad Masrul
Ajarilah anakmu
dengan tiga hal, cinta kepada nabimu, kepada keluarganya dan bacalah al-Qur’an
(Nabi Muhammad saw).
Pesantren
bagiku awalnya seperti penjara. Pertama masuk pintu gerbangnya, serasa
mencekam, tampak angker dan serem. Apakah pesantren memang sama dengan
anggapanku? Ternyata tidak. Setelah beberapa bulan dan tahun akhirnya aku pun
menjadi betah. Bahkan aku lulus dari pesantren dengan predikat yang sangat
baik.
Tetapi
kenapa, kawanku ada yang berhenti ditengah jalan. Tidak betah hanya dengan
alasan, di pesantren lingkungannya membosankan. Begitu juga teman-temanku yang
dikampung banyak yang bilang, masuk pesantren kedepannya mau jadi apa? Ya itu
anggapan orang. Tetapi bagiku yakin, bukankah jalan hidup setiap manusia sudah
Allah gariskan. Mana yang akan kita pilih? Itulah jalan hidup yang kita raih
dan dapatkan. Begitu juga dengan soal keyakinan kepada-Nya, diberikan
kebebasan. Siapa yang mau mukmin dan siapa yang mau kafir? Tergantung pribadi
kita.
Hampir
dua bulan aku merenung awal masuk pesantren, apakah aku bisa beradaptasi dengan
setiap orang yang aku kenal? Lebih jauh dari itu bagaimana mengenal kepribadian
diri dan orang lain. Bahkan mengenal hidup bermasyarakat dan nantinya
bernegara. Tidak terasa perjalanan hidup, bersekolah di Pesantren menyimpan
banyak kenangan manis dan pahit. Pahit bagai empedu. Manis hitam gula jawa, yang kelak berubah
menjadi manis putih gula pasir. Terus menjadi manis hingga akhirnya, usia tidak
terasa tua dan renta. Tetapi kita berbahagia, ada al-Qur’an didada dan jiwa.
Tua rentanya raga, tidak sama dengan tua rentanya jiwa. Ketika kita ada
al-Qur’an didada membuat jiwa dan hati kita kuat bagai baja walau usia sudah
tua.
Tidak
ada yang salah dan memang selalu benar adanya. Kalam Allah dan Rasul-Nya.
Bahwa, siapa orang yang dihati-didada-ditenggorokan tidak memiliki bacaan atau
pun hafalan al-Qur’an, maka orang itu bagaikan rumah yang rapuh. Sudikah kita
memiliki jiwa yang rapuh? Siapapun orangnya tentu tidak ada yang mau. Semua
orang berharap, memiliki jiwa yang kuat dan sehat seperti kawat balung besi.
Mari diri dan keluarga kita, rumah dan masyarakat kita, Negara tercinta Indonesia
mulai dihiasi dengan banyak membaca dan menghafalkan al-Qur’an.
18.54
rumahtahfidz
0 komentar :
Posting Komentar