Selasa, 08 Oktober 2013

Berawal dari Pesantren
Ahmad Masrul
Ajarilah anakmu dengan tiga hal, cinta kepada nabimu, kepada keluarganya dan bacalah al-Qur’an (Nabi Muhammad saw).
Pesantren bagiku awalnya seperti penjara. Pertama masuk pintu gerbangnya, serasa mencekam, tampak angker dan serem. Apakah pesantren memang sama dengan anggapanku? Ternyata tidak. Setelah beberapa bulan dan tahun akhirnya aku pun menjadi betah. Bahkan aku lulus dari pesantren dengan predikat yang sangat baik.
Tetapi kenapa, kawanku ada yang berhenti ditengah jalan. Tidak betah hanya dengan alasan, di pesantren lingkungannya membosankan. Begitu juga teman-temanku yang dikampung banyak yang bilang, masuk pesantren kedepannya mau jadi apa? Ya itu anggapan orang. Tetapi bagiku yakin, bukankah jalan hidup setiap manusia sudah Allah gariskan. Mana yang akan kita pilih? Itulah jalan hidup yang kita raih dan dapatkan. Begitu juga dengan soal keyakinan kepada-Nya, diberikan kebebasan. Siapa yang mau mukmin dan siapa yang mau kafir? Tergantung pribadi kita. 
Hampir dua bulan aku merenung awal masuk pesantren, apakah aku bisa beradaptasi dengan setiap orang yang aku kenal? Lebih jauh dari itu bagaimana mengenal kepribadian diri dan orang lain. Bahkan mengenal hidup bermasyarakat dan nantinya bernegara. Tidak terasa perjalanan hidup, bersekolah di Pesantren menyimpan banyak kenangan manis dan pahit. Pahit bagai empedu.  Manis hitam gula jawa, yang kelak berubah menjadi manis putih gula pasir. Terus menjadi manis hingga akhirnya, usia tidak terasa tua dan renta. Tetapi kita berbahagia, ada al-Qur’an didada dan jiwa. Tua rentanya raga, tidak sama dengan tua rentanya jiwa. Ketika kita ada al-Qur’an didada membuat jiwa dan hati kita kuat bagai baja walau usia sudah tua.

Tidak ada yang salah dan memang selalu benar adanya. Kalam Allah dan Rasul-Nya. Bahwa, siapa orang yang dihati-didada-ditenggorokan tidak memiliki bacaan atau pun hafalan al-Qur’an, maka orang itu bagaikan rumah yang rapuh. Sudikah kita memiliki jiwa yang rapuh? Siapapun orangnya tentu tidak ada yang mau. Semua orang berharap, memiliki jiwa yang kuat dan sehat seperti kawat balung besi. Mari diri dan keluarga kita, rumah dan masyarakat kita, Negara tercinta Indonesia mulai dihiasi dengan banyak membaca dan menghafalkan al-Qur’an.  

0 komentar :

Posting Komentar