Minggu, 11 Mei 2014


Mencetak Generasi Qur’ani
(Refleksi FASI- Festival Anak Sholeh Indonesia dan Menyambut STQ Nasional di Banjarmasin)
Oleh : Masrul, S.Sos.I
Mahasiswa pascasarjana S2 IAIN Banjarmasin
Mengenal FASI Dari Dekat
Ternyata pengalaman benar adanya. Istilah yang sering disebut sebagai the best teacher dimanapun adanya jika kita hidup dibawah naungan al-Qur’an, begitu kata Quraish Shihab, akan membawa keberkahan, begitu juga bagi anak-anak yang ikut dalam memeriahkan FASI, baik sebagai peserta atau pengunjung. Mereka ada yang mendapatkan hadiah dan kenang-kenangan. Semarak dan meriah, begitu saya menyaksikan acara FASI VIII di Kapuas. Betapa senangnya melihat anak-anak seusia 8-11 tahun melantunkan dan menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Semuanya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan. Hampir 1,5 jam saya berdiri dan tidak terasa pegal, saking enjoy dan asyiknya melihat acara pembukaan dan parade kafilah yang sangat luar biasa.
Festival Anak Sholeh berlangsung dibumi pertiwi dilaksanakan dalam setiap tahunnya. Tidak ketinggalan di bumi Kalimantan Tengah dan Selatanpun hal ini menjadi agenda rutin. Begitu juga di Kabupten-Kabupaten yang ada di Kalimantan. Apa sebenarnya harapan dari festival ini? Sesuai namanya maka tujuan ini adalah mengantarkan generasi anak Indonesia yang sholeh. Begitu juga dengan semarak STQ Nasional yang akan digelar di Banjarmasin nanti tanggal 4 Juni mendatang, semoga menjadi momentum perekat umat dan menjadi keberkahan untuk Indonesia.
Berbagai lomba dan kegiatan ditampilkan, mulai dari lomba Adzan hingga Tahfidz (menghafal al-Qur’an). Ini adalah langkah awal yang baik didalam pendidikan dalam mencetak generasi yang sholeh bagi anak. Coba kita melihat kembali sejarah keemasaan Islam, terutama masa Rasulullah, masa sahabat Nabi, masa Tabiin dilanjutkan dengan ulama-ulama yang memajukan Islam. Ternyata mereka adalah dekat dengan al-Qur’an bahkan hafal al-Qur’an. Begitu juga ketika kita bercermin kepada para ilmuwan Muslim, seperti Imam Syafi’I, Ibnu Sina dan ilmuwan muslim lainya, mereka berpijak diatas pondasi tahfidz yang kuat. Imam Syafi’I, seorang pendiri madzhab Syafi’iyah telah hafal al-Qur’an diusia 7(tujuh) tahun, begitu juga Ibnu Sina, seorang pakar kedokteran, sudah hafal al-Qur’an sejak usia 9(Sembilan) tahun.
Paradigma pendidikan al-Qur’an
Selama ini kita mengenal dan mengetahui kiprah TKA, TPA dan TPQ dalam pendidikan al-Qur’an. Tetapi jauh sebelumnya pesantren –pesantren di Jawa dengan nama pesantren tahfidz, telah mengemas kurikulum pendidikanya khusus ke al-Qur’an. Yang akhirnya perkembangannya, melembaga kedesign taman-taman pendidikan al-Qur’an atau lembaga-lembaga pembinaan dan pelatihan tilawah al-Qur’an. Apalagi dewasa ini terobosan metode tahfidz dalam dunia pendidikan saat ini mulai ramai, dengan muncul dan tumbuhnya sekolah berbasis karakter. Seperti SDIT( Sekolah Dasar Islam Terpadu), yang menggunakan tahfidz sebagai salah satu program unggulan dan menjadi core kompetensinya.
Banyaknya kenakalan remaja, kasus pelecehan sexual di sekolah-sekolah, satu sisi disebabkan oleh perkembangan media dan teknologi, tetapi sebenarnya hal itu terjadi dari kurang dan rendahnya pemahaman agama dan porsi materi agama yang minim disekolah. Yang akhirnya nilai agama dimata siswa menjadi rendah dan pemahaman agamapun gersang, sehingga mengakibatkan kulminasi kerawanan etika, akhlak, dan moral siswa.
Atas dasar inilah kita prihatin, sudah saatnya kita harus mencari format yang terbaik untuk anak didik-siswa sebagai generasi masa depan. Jangan sampai kita meninggalkan generasi dibelakang kita generasi yang lemah. Kalaupun pelayanan dunia pendidikan selama ini masih terkesan belu sesuai apa yang diharapkan oleh masyarakat, kita tidak bisa menyalahkan pemerintah sepenuhnya. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Melalui penyelenggaraan Festival Anak Sholeh dimanapun adanya, saya melihat ada catatan penting yang harus dijadikan tolok ukur keberhasilan dari dunia pendidikan; pertama, jadikan al-Qur’an basic oriented dan pondasi bagi pendidikan anak, kedua;. Menumbuhkan basic building character, dan ketiga; siapkan dan tumbuhkan life skill oriented pada siswa. Mengapa demikian? Dewasa ini yang lebih penting dikembangkan bukan hanya IQ, tetapi sisi lain yang lebih utama adalah EQ dan SQ. Daniel Goleman memberikan masukan ternyata IQ atau kecerdasan intelektual, itu hanya menyumbang sekitar 5-10 persen bagi kesuksesan hidup. Sisanya adalah kombinasi beragam factor yang salah satunya adalah kecerdasan emosi.
Persoalan Bangsa
Berapa banyak orang yang pintar di Indonesia saat ini? Jelas banyak, karena jumlah Professor dan Doktorpun sudah seabreg di Indonesia. Tetapi jika kita bertanya berapa banyak orang yang benar? Hal inilah yang menjadi catatan untuk Negara kita. Masyarakat umum sudah tidak asing lagi mendengar kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat tinggi Negara, yang titelnya tidak terlepasa dari rentetan gelar berpendidikan. Aneh tetapi nyata, kata itulah yang pantas menggambarkan keadaan di Negara ini. Maka dengan adanya pelaksanaan Festival Anak Sholeh, kita telah menyiapkan bibit unggul, telah mencetak genarasi cerdas hatinya namun tetap tidak melupakan cerdas otaknya.
Adapun metode membaca al-Qur’an umum dikenal dimasyarakat, ada Iqra, Qiro’ati, Itqan, al-Barqi dan masih banyak metode lainya. Begitu pula metode daam menghafal al-Qur’an, secara umum terangkum dalam potensi indra manusia itu sendiri yaitu; mendengar, melihat, dan membaca. Hal ini secara jelas diuraikan oleh Muhammad Habibillah asy –Syiqithi, ada banyak cara yang bisa digunakan untuk menghafal al-Qur’an al-Karim. Cara yang paling penting ada tiga: cara pertama, dengan mengulang-ulang halaman, cara kedua dengan menghafal ayat satu persatu, cara ketiga dengan menulis.
Hal yang sangat penting kita pahami bahwa; berdasarkan fitrahnya, manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk dapat memahami segala sesuatu yang dilihat oleh inderanya, kemudian mampu untuk memutuskan hukum atasnya. Dalam al-Qur’an, yang artinya” Dan tidak ingat melainkan orang-orang yang berakal.(Q.S. al-Baqarah 2:269) lafaz ulul albab diartikan Dzawu Uqul artinya orang-orang yang berakal.
Pesantren Sebagai pendidikan Al-Qur’an
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan. Yang memiliki ke-khas-an dibanding dengan lembaga pendidikan lainya, seperti sekolah atau madrasah. Oleh karena itu sebagai lembaga pendidikan dengan sendirinya, pesantrenpun memiliki kurikulum. Beragam pesantren maka beragam pula kurikulumnya. Seperti contoh Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, dengan metode tahfidznya one day one ayat. Sehari seayat. Ataupun yang namanya pesantren khususnya pesantren Tahfidz dan memang pada umunya , dimanapun berada-kiranya al-Qur’an dan hadis adalah pelajaran dan kajian pokok yang ada didalam kurikulum pesantrennya.
Pesantren sebagai pendidikan al-Qur’an tentunya merupakan basic oriented terhadap al-Qur’an itu sendiri. Untuk dibaca, dikaji dan diamalkan. Maka hal itulah wujud dari nilai-nilai yang ada dalam al-Qur’an yang menjadi pola atau tradisi di pesantren.
Pertama, nilai ibadah. Komunitas santri mempunyai system nilai tersendiri, yang berbeda dari lulusan lembaga lainya. System nilai yang berkembang mempunyai ciri dan watak khas yang membentuk identitas, seperti disebut oleh Abdurrahman Wahid dengan” karakteristik santri” atau yang diistilahkan oleh Fachry Ali dengan “kultur santri”. Kedua, nilai keikhlasan, ketiga, nilai kesederhanaan, keempat nilai kemandirian, kelima Ukhuwah Islamiyah, dan keenam nilai kebebasan. Pesantren sebagai tempat edukasi, maka sangat tepat, untuk dijadikan laboratorium nilainilai tersebut, sehingga santri yang lulus sudah berhasil dan tahan uji. Maka kurikulumnya harus berdasarkan aqidah Islam.
Tugas Pendidik al-Qur’an
Berkenaan dengan tugas guru(ustadz/dzah) yang sepenuhnya sadar akan kewajibanya sebagai seorang pendidik muslim. Dengan berbagai metode yang disodorkan dalam fasal penjelasanya, dengan melihat tiga aspek. Pertama, hakekat metode dan relevansinya dengan tujuan Pendidikan Islam, yakni membentuk pribadi orang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Kedua, mengadakan penelitian tentang aktualisasi metode-metode instruksional. Ketiga, berkenaan dengan pemberian motivasi dan disiplin, atau terma-terma al-Qur’an tentang ganjaran atau hukuman tsawab atau ‘iqab.
Satu metode yang harus ditanamkan bagi setiap anak adalah building character. Setiap santri atau siswa bersama pendidik, belajar bagaimana sholat tepat waktu, plus sunah qabliyah dan ba’diyahnya. Belajar menghidupkan (ihyaus-sunnah), tahajjud dan dhuha, puasa senin-kamis, sedekah dan tilawah al-Qur’an. Lebih-lebih menghafalnya.
Al-Qur’an sebagai mukjizat. Menawarkan siapa yang ingin diberikan kehidupan yang sukses dunia, dan akhirat maka pelajarilah al-Quran. mengamalkan al-Qur’an. Para Penghafal Qur’an diberi restasi oleh Nabi, bahwa mereka memiliki kedudukan luar biasa.”Sungguh,”kata Rasulullah SAW, “ Allah mempunyai’keluarga’diantara manusia.” Para sahabat bertanya,”Siapakah mereka ya Rasulullah?” Nabi menjawab,”Para Ahli al-Qur’an. Merekalah ‘keluarga’Allah dan pilihan-pilihan-Nya” (HR Ahmad). Bahkan Al-Qur’an memotivasi kita semua. Allah berfirman: “Man ja’a bil hasanati falahu asru amtsaalihaBahwa siapa yang berbuat kebaikan akan dibalas sepuluh kali kebaikan (QS. 6.160). Tinggal kita, maukah diberi balasan kebaikan oleh Allah SWT?
Anak-anak kita adalah amanah dari Allah SWT, yang harus kita didik dengan didikan yang terbaik. Saatnya kita bersama mengajarkan mereka dengan al-Qur’an, karena al-Qur’anlah gizi yang terbaik untuk mereka konsumsi. Semoga bermanfaat.


0 komentar :

Posting Komentar